Home / Batik Tulis Bunga Kantil Bunulrejo Malang / Sarasehan Batik Bunulrejo “Batik Tulis Mbois Bunulrejo wujud Warga Kelurahan Bunulrejo Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Melalui Batik Tulis”

Sarasehan Batik Bunulrejo “Batik Tulis Mbois Bunulrejo wujud Warga Kelurahan Bunulrejo Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Melalui Batik Tulis”

Sarasehan Batik Bunulrejo

Mengambil tema yaitu : “Batik Tulis Mbois Bunulrejo wujud Warga Kelurahan Bunulrejo Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Melalui Batik Tulis”

Mengakar Sejarah Bunulrejo berusia 1084 Tahun, Menarik kan, sebuah culture/budaya Bunulrejo ??? :

Sejarah asal usul desa pada umumnya dapat digali melalui tinggalan arkeologis dan folklor (cerita rakyat). Berdasarkan “prasasti kanuruhan”, ditulis di belakang sandaran arca “Ganesha” (Dewa berkepala gajah dari pemeluk agama Hindu ) yang putus bagian kepala hingga bahu, yang dahulu berada di halaman rumah Bapak Dasir di Beji Gang Buntu (RT 01 RW XII) Kelurahan Bunulrejo.

—Sepanjang yang dapat dibaca pada prasasti ”Kanuruhan” yang berbahasa Jawa kuno dan berhuruf Jawa Kuno tersebut bahwa pada tahun 856 saka bulan Posya Wuku Wukir, Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan hadiah sebagian tanah di desa yang masuk wilayah kanuruhan kepada penduduk desa yang bernama “BULUL” atas jasa-jasanya terhadap desanya. Nama “BULUL” ini kelak kemudian hari berubah menjadi “BUNUL” dari hasil perubahan bunyi dari konsonan ”l” menjadi “n”, seperti kata : Melur menjadi Menur, Panawijen menjadi Palawijen.

Pada zaman Belanda, Desa Bunul menjadi wilayah Asisten Wedana Blimbing menurut ketetapan Gemeenteblad no.108 tahun 1937. Sejarah desa Bunul dapat diketahui berdasarkan data-data sejarah dan arkeologis yang ada di dalamnya.

Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah (historical approach), yaitu untuk  mengetahui sejarah desa Bunulrejo di masa lampau. Dari hasil analisa diketahui bahwa Bulul berasal dari nama seorang pemuda Jawa Kuna yang hidup pada kurun abad X M dan bertempat tinggal di desa tersebut. Desa tersebut oleh raja dianugerahkan kepada Bulul, ditandai peresmian pada prasasti batu yang berbentuk arca Ganesya. Peresmian dilakukan hari Minggu, 4 Januari 935 M pukul 12.00. yang secara formal sejak tanggal itu, Bulul berhak atas desa tersebut.

Demikianlah secara singkat terbentuknya Kelurahan Bunulrejo yang sekarang ini, yang secara administratif dapat dikatakan bahwa pemerintahan desa dapat dilacak/dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda (kolonial). Yang menarik perhatian dari desa Bunul tersebut adalah ‘nama’ desa itu sendiri, yaitu Bunul. Akan sia-sia apabila mensejajarkan nama ini dengan nama-nama tempat yang ada di daerah Malang yang kebanyakan berasal dari nama pohon (seperti Celaket, Rampal, Lowokwaru, Jatimulyo, Kasin, Bareng, Gading Kasri, dan sebagainya) atau kondisi alam setempat (seperti Kauman, Talun, Mergan, Merjosari, Dinoyo, Jenggrik, Bioro, Guyangan, Tlogomas, Tulusrejo, Bantaran, dan sebagainya). Sementara nama Bunul tidak termasuk dalam dua kategori nama tersebut di atas.

Dengan demikian tentunya ada sesuatu peristiwa yang menempatkan daerah ini bernama ‘Bunul’. Bagaimanakah dapat diketahui tentang masa lampau dari Desa Bunulrejo ini, kemungkinan dapat dilacak berdasarkan data-data yang ada di dalamnya. Karena sejarah asal usul desa pada umumnya dapat digali melalui  tinggalan arkeologis dan  folklor atau cerita rakyat. Beruntung di daerah Bunulrejo masih dapat ditelusuri adanya peninggalan-peninggalan pada masa lampau sejak zaman Hindu Budha dan Islam (Mataram Islam). Untuk mencari asal-usul desa, pada umumnya dicari pendekatan dengan cerita dari mulut ke mulut tentang tokoh ‘bedah krawang’ atau yang membuka perkampungan pertama kali (Soedjono, 1981).

Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah:

Data di lapangan berupa artefak arca Ganesya yang di belakang sandarannya terdapat prasasti, serta indikasi Situs Telaga. Sumber informasi di lapangan (keterangan penduduk setempat berupa kesaksian adanya situs dan cerita rakyat), serta referensi yang mendukung.

  1. Situs Bekas Telaga

Di  Kelurahan Bunulrejo terdapat sebuah kampung kecil bernama ‘Beji’. Letaknya berada di sebelah timur kantor Kelurahan Bunulrejo. Kampung tersebut hanya dihuni sekitar 6 rumah, yang salah satunya adalah berupa ‘Gereja Kristen Advent’. Karena kampung tersebut berpenghuni sedikit dan tidak terdapat akses jalan tembus, maka dinamakan kampung ‘Beji Gang Buntu’. Dalam bahasa Jawa, kata ‘Beji’ berarti telaga (Poerwadarminta, tanpa tahun; Mardiwarsito, 1986; Zoetmulder, 2004).

Di bawah bangunan gereja tersebut, menurut keterangan penduduk setempat bahwa di bawahnya terdapat bekas telaga berukuran 12 m² yang sisi-sisinya dibatasi dengan dinding bata merah tebal, dengan pancuran-pancuran (dwarajala) di sekelilingnya guna mengalirkan airnya yang didapat dari sumber bawah tanah (artesis). Penduduk setempat menamakannya ‘sumur gumuling’. Ditimbunnya lahan situs telaga tersebut karena pertimbangan kepentingan tempat tinggal, apalagi pada waktu itu perhatian pihak pemerintah daerah terhadap bangunan-bangunan purbakala belum serius penangannya. Informasi yang diperoleh dari pemilik tanah bahwa sekitar tahun 1960-an, lahan situs telaga tersebut diurug dengan tanah urug bermeter-meter kubik oleh pemilik tanah,  sehingga rata dengan lingkungan kanan kirinya.

  1. Arca Ganesya

Di sisi telaga, dahulu terdapat sebuah arca dewa Hindu yang berkepala gajah,
yaitu Ganesya. Ukuran arca Ganesya tersebut P: 101.5, L: 74, dan Tg: 109.5. duduk di atas bantalan motif bunga teratai ganda. Setengah bagian dada ke atas hilang. Tangan empat (caturbhuja). Tangan kanan belakang patah. Tiga tangan lainnya bagian tekapak tangan hilang, sehingga tidak diketahui laksana apa yang dibawa. Arca ini ketika didapati pertama kali pada zaman Belanda memang sudah rusak. Kerusakan antara lain pada bagian atas, yaitu bahu hingga kepala hilang. Potongan kepala arca tersebut hingga kini belum ditemukan. Diduga potongan tersebut memang sengaja dihancurkan berkeping-keping dan kemudian dimasukkan ke dalam telaga. Menurut keterangan Bapak Dasir sebagai pemilik tanah, dari cerita leluhurnya sejak arca tersebut ditemukan kondisinya sudah tanpa kepala.

Pada tahun 1978 oleh Bapak Djoko Rihadi selaku Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Malang waktu itu, arca Ganesya tersebut diangkat untuk dipindahkan ke kantor DPU Kotamadya Malang di Jl. Halmahera. Tahun 1991 arca Ganesya beserta dengan arca yang lain dipindah lagi ke Taman Senaputra Malang. Baru tahun 2003 ditempatkan di Balai Penyelamatan Benda Cagar Budaya ‘Pu Purwa’ Kota Malang hingga sekarang.

Arca Ganesya dari Bunulrejo

  1. Prasasti

Di balik sandaran arca Ganesya terdapat beberapa baris inskripsi yang merupakan sebuah prasasti berkenaan dengan daerah tempat arca Ganesya semula berada, yaitu kawasan ‘Beji’ Bunulrejo. Prasasti Kanuruhan pernah dibaca oleh Boechori dan tercantum dalam disertasi Edi Sedyawati (Sedyawati, 1994). Sepanjang yang dapat dibaca pada prasasti ‘Kanuruhan’ yang berbahasa Jawa Kuna dan berhuruf Jawa Kuna tersebut bahwa pada tahun 856 saka bulan Posya wuku Wukir (bulan ‘posya’ tersebut menurut pembacaan Damais tahun 1950an, tetapi sewaktu Boechari membaca di tahun 1970an, huruf ‘pa’ untuk kata ‘Posya’ sudah hilang, hingga sekarang yang terbaca hanya angka tahunnya saja, (sementara penanggalan hari pasarannya hilang karena batunya pecah). Rakryan Kanuruhan Dyah Mungpang memberikan hadiah sebagian tanah di wanua/desa……. (nama desa tidak terbaca, hanya kata akhir yang tersisa, yaitu: ‘tan’) yang masuk wilayah Kanuruhan, kepada penduduk desa (anak wanua) bernama ‘Bulul’ atas jasa-jasanya terhadap desanya.

Jasa Bulul tersebut diduga berhubungan dengan keamanan wilayah desa, serta perhatian dan kecintaannya terhadap alam lingkungan, serta patriotisme yang tinggi. Dalam merealisasikan kecintaan dan kepedulian terhadap alam lingkungan, Bulul membuat sebuah telaga yang indah yang lengkap dengan taman bunganya. Atas perhatian dan kepedulian Bulul terhadap lingkungan tersebut, akhirnya penguasa/raja wilayah daerah Kanuruhan, memberikan hadiah tanah perdikan sebagai anugerah atas jasa-jasa Bulul (Sumadio. Ed, 2008) :

 

BATIK TULIS BUNULREJO

Mengapa batik ????

Mengapa sarasehan Batik ????

Mengapa Batik Tulis Mbois Bunulrejo wujud Warga Kelurahan Bunulrejo Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Melalui Batik Tulis ???

Jawabannya adalah merupakan sebuah spirit warga Kelurahan Bunulrejo membangun daerahnya menjadi semangat tourism, Batik merupakan warisan budaya Indonesia, dan Bunulrejo dengan sejarahnya yang sudah tergali berusia 1084 tahun merupakan anugrah bagi masyarakat, sehingga dengan bergandengan tangan akan memberikan value ekonomi kreatif menarik bagi kota Malang.

Menghadirkan Pemateri Nasional Trainer Akselerator Bisnis Produktifitas Dr. Suryono Hadi Elfahmi, MM, beliau alumnus S3 Program Pascasarjana Universitas Merdeka Malang. Mempunyai pengalaman dalam memstartup salah satu desa sentra batik terkemuka, dengan pengalaman yang luar biasa ini akan memberikan sebuah prespektif menarik dalam mengembangkan potensi Batik Bunulrejo.

Menjadi sebuah prespektif dan diskusi menarik dalam Saresehan Batik Bunulrejo dapat membahasa beberapa hal yaitu :

1. Membangun Batik Tulis Bunulrejo menjadi sebuah ekosistem industri Batik Bunulrejo,

2. Branding produk batik Bunulrejo

3.  Mengelola manajemen batik UMKM Batik Tulis Bunulrejo

4. Bagaimana Batik Tulis Bunulrejo menjadi sentra Batik terkemuka

Melihat prespektif diatas tentunya rasa optimisme yang luar biasa dari kami stakeholder Kelurahan Bunulrejo, karena tujuan Ekonomi Kreatif, sejalan dengan Visi Misi Walikota Malang Drs. H. Sutiaji dan Wakil Walikota Malang Ir. Sofyan Edi Jarwoko.

Sarasehan Batik Bunulrejo ini dilaksanakan pada Rabu 20 November 2019, pukul 19.00 Wib di gedung Bunulrejo Creative & Leadership Center (Kantor Kelurahan Bunulrejo).

Siapa yang wajib hadir :

1. Perajin Batik Bunulrejo

2. penjadhit dan Designer Baju di wilayah Bunulrejo

3. Pelaku seni budaya Bunulrejo

4. Semua stakeholder kelurahan Bunulrejo.

Ayo seluruh warga Bunulrejo bergabung untuk Sarasehan Batik Bunulrejo, bergandengan tangan dengan ide besar, dari Kita Untuk Kita Bunulrejo Mbois (Mbonol Istimewa).

Bagian dari acara Tanggal 23 November 2019 *Bunulrejo Recycling & Batik Night Carnival*

Bunulrejo Recycling & Batik Night Carnival merupakan agenda utama melaunching Batik Khas Bunulrejo, banyak pernak pernik acara, sehingga kalau tidak data rugi, ini acara Mbois kedua dari Kelurahan Bunurejo.

Bagaimana itu Batik Bunulrejo, datang ya pada tanggal 23 November 2019

Ada Filosofi Bunulrejo :

*Mbois kantil*

Mbonol Istimewa Kanti Lestari

Terjemahan bebas:
*Kelurahan Bunulrejo yang memiliki keistimewaan abadi…*

Bunulrejo Mbois Kantil
Mbonol Istimewa

 

Redaksi : AW 1

Sebagian artikel sejarah diambil dari : https://hurahura.wordpress.com/2018/01/03/sejarah-desa-bunulrejo-kota-malang-berdasarkan-tinjauan-prasasti-kanuruhan/

 

About Administrator Website

Check Also

Seriusi Tiga Corak Khas Batik Bunulrejo

Sabtu, 23 Nov 2019, dibaca : 285 , Muhaimin, Fino MALANG – Pokja 2 PKK …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.